Senin, 26 Mei 2008

Pemanasan yang "Panas"

Jadwal pertandingan belum dimulai. Curi-mencuri start dengan alasan pemanasan menjadi hal yang "disahkan". Akhirnya suasana pun "memanas".

5 komentar:

wendra wijaya mengatakan...

Itulah politik.. siapa cepat dia dapat!!! Dan kalaupun ada yang "panas" duluan, toh masyarakat tahu mana pemimpin yang dewasa dan mana yang masih anak2.. Dengan peristiwa itu, bukankah masyarakat bisa lebih mudah menilai calon pemimpinnya????? Yah, seperti tulisanku "Mari Berpesta Dengan Kegetiran"... bacalah...

namaku wendy mengatakan...

hehehe gak ngerti deh, gak paham kl soal menyoal di dunia perpolitikan, kl panas memanas ya udah tinggal kipasan aja;p

putra adnyana mengatakan...

sekarang kita mulai pembalajaran politik yang lebih dewasa.
kita sudah diajarkan politik semenjak kita tahu ayah dan ibu kita, serta saat mulai memilih teman, dan rekan/ sahabat.
sehingga nantinya memberikan nilai yang positif kepada kita,
mreka yang masih anak2 dalam berpolitik beri pengertian, jangan trus kita melakukan perlawanan seperti anak2 juga, dewasalah berpikir bro..
kalo terus begini kan ancur semuanya toh, betul??
bali terkenal dengan ramahnya, jadi ramahlah dalam berpolitik,sekarang dah ada 3 calon gubernur yang memberikan visi dan misi untuk bali kedepan, cermati itu, pilihlah dengan hati nurani...
jangan menutup mata dan telinga dan asal coblos karena kata teman.., apalagi karena kata duit...
hehe..
thx bro maw baca ini..

Mata Telinga mengatakan...

Sudah biasa orang curi start, buakan Indonesia gitu loh. Bukannya pesimis sama bangsa ssediri, tapi itulah memang keadannya, mo bilang apalagi. Bangsa ini masih baru dalam mengenya yang namanya demokrasi, jadi kearifan dalam berpolitik masih sangat kurang. Memang tidakdapat dipungkiri bahwasanya politik itu bagai pagi yang berkabut. Ndak ada jelasnya mana kawan mana kawan. Begitu pual cara bermainnya, tapi menurutku saat memilih kita memang harus -sekalilagi- arif. Kalo belum jadi aja dah suka nyolong, berarti itu orang biasanya gak percaya diri ikut pilkada dan gak tau juga nantinya paskepilih nyolong banyak apa dikit, hehehehee...

Ayo Dobrak ! mengatakan...

kini, masyarakat Indonesia sangat apatis dengan politik di negerinya sendiri. ini terbukti dengan rendahnya minat atau animo mereka untuk melangkahkan kaki pergi ke TPS, bukan karena kesadaran politiknya sudah tinggi tetapi sekali lagi APATIS. cara-cara curang yang dilakukan oleh rival politik kepada lawan politiknya membuat masyarakat jenuh melihat perbuatan banci mereka sehingga berjung apatisme. saya tidak melihat ini (pembakaran baliho salah satu cagub) sebagai bentuk pelanggaran pemilu semata,saya melihat perbuatan ini adalah bentuk provokatif untuk memecah persatuan dan kesatuan masyarakat Bali yang terkenal plural dan toleran. klik terlemah untuk memutus persatuan masyarakat Bali adalah dengan provokasi SARA, tak pandang saudara kalau ideologi politik berbeda maka mereka akan saling bunuh (semoga ini tidak terjadi di Bumi Bali laiknya di MALUT)
"jangan menutup mata dan telinga dan asal coblos karena kata teman.., apalagi karena kata duit..."(putra adnyana)
benar kata kawan Putra andyana, tetapi kadang keinginan untuk cari aman (oportunis) mampu mengalahkan suara hati yang paling dalam; masyarakat tau mana yang benar dan yang salah, tetapi mereka lebih memilih yang salah, kenapa, karena jika mereka memilih yang benar rasa aman mereka akan terganggu sebaliknya apabila memilih yang salah mereka akan mendapatkan rasa aman. "Bli, pilih cen?"
"rage milih ani partaine gede gen"
"knape Bli"
"apang Aman gen"
"adi keto"
"men, amun partai ani gede kalah, nyan ribut bali!. adanan be pilih partai ani gede gen, diastun jelemane beler-beler"