Kamis, 18 Desember 2008
Post 1st Coitus Syndrome
Sudah malam, seorang remaja laki-laki, belum juga pulang. Begitu gelisah di dalam ruang kelasnya. Akhirnya merasa lega setelah menerima sebuah SMS.
Surabaya 13 Minutes Film Festival (S13FFEST 2007)
4 Video Art Official Selection Ganesha Film Festival (GANFFEST) 2008
Dari Gatel 2008
Rabu, 12 November 2008
Killing Me Softly
Segala sesuatu baik material maupun immaterial yang kita masukkan ke dalam tubuh itulah yang membunuh kita secara perlahan...
2007 Surabaya 13 Minutes Film Festival (S13FFEST 2007)
Senin, 28 Juli 2008
Suatu Hari Ketika Aku Harus Refreshing
Kehidupan Minor di Surga Dunia


Di balik semua keindahannya, ternyata di surga itu ada kehidupan-kehidupan minor yang memprihatinkan. Merambahnya pembangunan ternyata tidak segencar niat wisatawan untuk menikmati alam Batur. Paling tidak ada 3 warung di puncak gunung dan 2 warung di lereng yang menunjukkan sebuah perjuangan hidup yang luar biasa. Kaki-kaki tua terlatih mereka mampu mengantarkan coca-cola ke puncak hanya dalam waktu sejam saja! Padahal idealnya dibutuhkan waktu 3 jam untuk mencapai puncak.
Kemiskinan, itulah alasan klise yang memaksa mereka memilih hidup setangguh itu. Walaupun disadari atau tidak usaha ilegal tersebut dapat merusak alam sekitarnya. Bukan hanya hutan lindung yang dibuka untuk membangun warung tetapi akhirnya mereka juga memelihara sapi disana. Pohon-pohon kecil dirabas untuk diambil daunnya sebagai pakan ternak dan kayunya dijadikan kayu bakar. Kata “Dilarang” tentunya takkan mudah diaplikasikan dalam masyarakat adat yang “rasa memiliki”-nya sudah terbentuk beratus tahun-tahun. Demikian juga pada masyarakat di sekitar gunung Batur. Diperlukan sebuah solusi yang lebih dari sekedar aturan hukum yang bersifat memaksa.
Di kaki gunung aku bertemu seorang anak, mengaku bernama Riandika, kelas satu SD, dari keluarga yang terlihat sangat miskin. Makan jambu dan pisang dengan tangan yang kotor. Kakinya tanpa sandal ditenggelamkan ke dalam debu. Mengaku bersekolah sangat jauh dan terbiasa tanpa sandal atau sepatu. Setiap kamera diarahkan padanya dengan sangat sadar kamera ia tersenyum. Keramahannya membuatku mengeluarkan dompet, aku beri dia 
Klise sekali sebenarnya yang aku tulis ini
Minggu, 13 Juli 2008
Mori's 1st Time

Di lapangan bulutangkis kemarin, kami sesama penggemar anjing (apa hubungan penggemar anjing dengan lapangan bulutangkis?) ngobrol santai sambil mengeringkan keringat.
"Ang, anjingku si Mori akhirnya kawin!," kalimatku pada Aang seorang kawanku.
"Wah, keperawanan Mori hilang begitu saja karena ambisi majikannya!" kata Aang.
"Haha... lucunya khan udah aku serahkan keperawanan anjingku, bayar pula 1,5 juta!" sambungku.
"Anjing memang ga mengenal 'pri kemanusiaan', Dap!" sahut Aang.
"Benar Ang! Lebih mahal dari manusia untuk hal 'begituan' " sambungku lagi.
Tekling, Ringin, Sena, pacarnya Ringin, Surya, Frida : "Hahahaha.....!"
Nb. Yang mulai tertarik mencintai Golden n Rottweiler koling2 yaw.... (dap)
Cerita Seperempat Abad
Besok bulan Juli
Pantas udara dingin sekali
Suasana semakin meredup
bersama lelah lampu-lampu
yang mulai kehabisan minyaknya
Adalah bahagia dan panik
Keluarga itu
Menerabas rumput tinggi-tinggi
jalan tanah Jeruk Mancingan
basah, licin dan tak bermerkuri
di malam terakhir bulan Juni yang berkabut
tergelincir adalah lebih dari sekedar rasa sakit!
tak ada alasan
pandangan lepas dari sorot lampu bulat binter itu
Menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu...”
Putra kedua mereka lahir
bersama kokok ayam pertama
Selasa, 10 Juni 2008
Suara-Suara Skizoprenia (2)

Mempura-puratidurkanku
Yang belum selesai nge-blog
Dengan laptop yang tidak ada
“Pemain pedang itu datang!”
“Kau adalah bunga mimpinya…”
Mempunggungi punggungku
Kasur seharusnya tak cukup
Perasaanku: terlalu hitam untuk Mas Dedi
Kafan menjuntai dari plafon
Digantung tali ijuk
Berajah wajah-wajah wayang
Apa artinya?
Berontak pada kaku badan
“Tak ada Tuhan disitu!”
“Malaikatmu adalah kamu!”
Tali ijuk putus
Tubuh terbalut kafan berajah wajah-wajah wayang
Menggetar-getarkan realita
Sekujur basah dibalur keringat
Begitu dingin ditiup kencang angin subuh
Dari jendela yang terkunci rapat
Dijaga seekor kucing tak berkelamin
Sementara pohon di halaman terlihat beku
Tak ada hubungannya dengan rangda dan barong bangkung
Kami begitu karib semalam
Senin, 26 Mei 2008
Pemanasan yang "Panas"
Minggu, 25 Mei 2008
Evaluasi Kitab Suci Untuk Penyelamatan Lingkungan
Keyakinan mengajarkan kita bahwa kehidupan terdiri dari tiga fase yaitu lahir, hidup dan mati. Tak boleh ada yang memungkiri itu. Demikian juga alam ini, diyakini berawal dari proses penciptaan, lalu keberadaannya hingga sekarang ini dan nantinya juga diyakini pasti akan sampai pada kehancurannya. Lalu untuk apa kita berusaha menyelamatkan lingkungan jika memang nantinya sudah pasti akan rusak atau hancur. Akhirnya kita berpendapat bahwa segala gerakan penyelamatan lingkungan hanyalah usaha untuk mengulur-ulur waktu tibanya kehancuran tersebut.Kamis, 15 Mei 2008
Akhir Sejarah Suku Bugis Sebagai Bangsa Pelaut di Serangan
Setelah pendulang itu datang
Mengayak setiap butir pasir
Bersama terumbu masa lalu
Menenggelamkan laut
Tak ada lagi kura-kura
bersedia mampir ke jaba pura
Telurnya telah pecah dalam rahim
didentum musik pesta
Anak-anak sudah lupa akan asin laut
Genangan keringat ayahnya
Tak cukup menjadi kolam
Tempat belajar berenang
Sejarah pelaut bangsaku berakhir
Serangan, April 2008
Rabu, 14 Mei 2008
Pariwisata dan Stagnasi Seni Budaya Bali
Sudah hampir tiga dasawarsa pariwisata menjadi andalan perekonomian Demikian halnya dibidang seni budaya, jarang sekali seniman muda
Bukan hanya dalam kesenian-kesenian yang termasuk mayor di
Anehnya mereka tetap asyik dan merasa sudah cukup mapan dalam berkesenian. Mungkin mereka sudah merasa bahwa seni di Bali sudah sempurna dan menjadi ukuran seni yang “baik dan benar”. Diskusi-diskusi tidak terlalu mendapat perhatian. Justru kesannya bagaimana mereka mendapatkan perhatian, dalam hal ini pasar. Siapa pun tahu Bali sangat kaya sumber daya seni budaya sehingga layak disebut sebagai laboratorium kebudayaan
Dunia Delapan Tahun
Dunia delapan tahun
Adalah alasan berkata bisu
Melangkah searah
Begitu mutlakkah?
Hingga jarak tak mampu membuat rentang
Siapa menunggu siapa?
Pada dimensi yang berbeda itu?
Senin, 12 Mei 2008
Negeri Perempuan ala Teater Topeng
Jika Teater Angin memilih mengikuti lomba di Halaman RRI Denpasar menjadi pilihan setelah beberapa tempat yang biasanya dipakai pentas teater penuh karena memang hari itu banyak sekali agenda kebudayaan digelar di Denpasar. Walaupun dilaksanakan di halaman terbuka secara sederhana namun semangat tinggi nan ceria ala Teater Topeng tetap terlihat.
Mereka mengambil naskah berjudul Negeri Perempuan karya Sonia. Garapannya dikemas dengan sangat realis. Sentuhan komedi dalam setiap adegannya membuat puluhan penonton yang didominasi anak-anak teater sekolah lainnya bertahan hingga adegan terakhir yang berlangsung hampir selama satu jam.
Agaknya sudah menjadi ciri khas Teater Topeng tampil dengan gayanya yang ringan-ringan. Setiap adegan ditampilkan secara vulgar sehingga mudah dicerna penonton. Namun lemahnya, tidak ada pendalaman karakter dalam setiap tokohnya. Semua karakter terlihat sama. Ketika adegan menunjukkan kaum laki-laki yang berkuasa, semua karakter laki-laki menjadi galak. Demikian juga sebaliknya pada adegan kaum perempuan berkuasa. Tidak ada usaha untuk menggali karakter secara lebih detail. Hampir tidak ada pembedaan karakter secara individu.
Kekerasan selalu ditunjukkan dengan cara memukul, menendang atau menampar lawan mainnya. Kemarahan selalu diluapkan dengan berteriak dan menghujat. Semuanya dilakukan tanpa kontrol. Sehingga sering menghasilkan kecelakaan panggung. Penonton pun dibuat khawatir akan sakit yang diterima aktor atau aktris akibat tamparan, tendangan dan pukulan lawan mainnya. Bagaimanapun akting semestinya kontrol harus tetap dilakukan. Bahkan, akting akan kelihatan lebih berhasil jika aktor atau aktris berhasil juga mensiasati adegan dengan kontrolnya. Seandainya aktor atau aktris harus berakting tidur apakah mereka harus benar-benar tidur, begitulah teorinya Stanislavsky.
Namun dibalik kelemahan-kelemahan itu ada hal positif yang perlu kita catat. Teater Topeng termasuk teater yang masih muda jika dibandingkan dengan teater sekolah seperti Teater Angin SMA 1 Denpasar namun tetap eksis dan dengan semangat tinggi. Masih terus bergeliat walaupun LDM PSR ditiadakan. Bravo Topeng!! (dap)
Suara-Suara Skizofrenia
Dengan pita miniDV kurekam suara Tuhan
Tak ada gambar hanya samar-samar
Terdengar seperti serak basah suaramu:
(Tapi benar-benar tak cukup cahaya
Hingga pagi tiba dengan berjuta pantul warna)
dokumenter televisi dalam hatiku
Premiere Screening di Buungan - Bangli
Minggu, 27 April 2008, sebuah desa yang biasanya sepi terutama di malam hari mendadak begitu ramai. Buungan nama desa itu. Hampir seluruh warga, laki-laki-perempuan, tua-muda, semua berkumpul di balai banjar desa yang terletak di Kabupaten Bangli itu. Bagaimana tidak, sebuah acara langka digelar di desa itu: pemutaran perdana film!Bukan hanya sekedar pemutaran film yang membuat warga begitu antusias namun juga karena film tersebut mengambil syuting di desa tersebut dan melibatkan beberapa warga disana. Warga begitu riuh rendah ketika melihat kawan atau keluarganya muncul di layar.
Acara tersebut digagas oleh yayasan Idep bekerjasama dengan Kelompok 108. Film-film bertemakan bencana tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan cara-cara penanggulangan jika terjadi bencana. Acara dimulai dengan pre-test dan setelah menonton film dilanjutkan dengan post test. Suasana begitu akrab hingga akhir acara makan-makan dan door prize DVD film tersebut. (dap)
Tiga Bulan Setelah Nyonya Tua Dicuri Orang
Nyonya tua,
Tadi malam aku bermimpi
Kau telah dimutilasi
Dijual ecer di emper-emper
Aku lebih khawatir lagi
Kau hanya dipakai mengetik skripsi
Kau pasti sakit hati
Bagiku kau janda muda
Aku merindukanmu
Pulanglah…
Perjakai aku…
Jumat, 09 Mei 2008
Teater Angin, Teater Sekolah Terbaik se-Indonesia
Tidak sia-sia apa yang dilakukan dengan kerja keras oleh Teater Angin. Teater sekolah SMA 1 Denpasar ini mampu meraih apa yang diimpikannya: Teater Sekolah Terbaik Nasional! Gelar itu memang pantas kita predikatkan setelah mereka berhasil meraih empat juara terbaik dalam tujuh kategori yang dilombakan dalam lomba drama modern tingkat SMA/SMK di Semarang akhir bulan lalu.Sangat tepat sekali Teater Angin memainkan naskah Calonarang karya Putu Wijaya. Naskah yang memberi kesempatan untuk menyajikan unsur-unsur nilai lokal
Teater Angin berhasil tampil sebagai penyaji terbaik, aktor terbaik, aktor pembantu terbaik dan sutradara terbaik. Sebuah hasil yang mengagumkan bagi sebuah kelompok teater sekolah yang baru kali pertama tampil di pentas nasional. Punyakah mereka impian untuk tampil di pentas dunia?(dap)
Kamis, 08 Mei 2008
“Bokepmu dimana, Bli Dap?”
Masih saja kau berusaha mengilusi kelaminmu
Yang akan memperingin
Kau memperlekas lepas perjakamu
Untuk kesekian kalinya hari ini







